Selasa, 19 Agustus 2025

PRAMUKA BLOK KELAS 8H 14-15 JUNI 2024

CERITA

 

PRAMUKA KELAS 8

 

Saat kenaikan kelas kami satu angkatan pergi melaksanakan kegiatan pramuka blok di tempat perkemahan

Nangun Kerti Bedugul, sebelum melaksanakan pramuka blok tersebut kami latihan yel yel bersama teman sekelas yang regu putra selama kurang lebih 1 minggu sekaligus latihan untuk pentas seni, untuk pentas seni kami menampilkan grup musik dan membawakan lagu "remaja". Pada saat hari jumat adalah hari dimana kami akan berangkat ke nangun kerti, kami kumpul di sekolah pukul 5.00 pagi dan berangkat pada jam 5.45 pagi, lalu sampai di tempat perkemahan Nangun Kerti Bedugul pada pukul 8.00. Setelah sampai kami langsung merapikan barang barang dan bersiap untuk lomba yel yel dan upacara pembukaan pramuka blok, setelah semuanya selesai kami lanjut makan siang setelah itu kita lanjut kegiatan lomba pionering,morse,semaphore setelah itu kami beristirahat dan bersiap siap untuk kegiatan selanjutnya yaitu outbond. Pada saat kegiatan outbond dimulai kami langsung jalan menuju hutan, di setiap pos kami akan diberikan tantangan atau ujian mengenai Pramuka dan bertujuan untuk meningkatkan kerja sama kami dalam regu, kegiatan itu berlangsung kurang lebih 3 jam. Setelah selesai kami langsung mandi dan bersiap siap untuk kegiatan pentas seni dan api unggun. Pada jam 22.30 kami sudah selesai acara api unggun dan pentas seni lalu kami sikat gigi bersiap siap untuk istirahat malam. Pada pagi hari jam 5.00 kami bangun dan cuci muka bersiap siap untuk bermain games dan upacara penutupan. Pada pukul 10.30 semua acara sudah selesai dan kami berangkat kembali ke sekolah dan sampai disekolah pukul 13.00 dan sampainya di sekolah kita dijemput oleh orang tua masing masing. Sekian cerita pramuka darin anak kelas 9H.

WATERBOM 16 MARET 2025

 Pagi itu, semangat sudah membara. Rencana liburan ke Waterbom Bali sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tepat pukul 10 pagi, delapan sahabat, Okie, Ryoshi, Youri, Daffi, Radit, Reagen, Agusto, dan Dava sudah berkumpul di depan rumah. Dengan tas ransel yang berisi perlengkapan renang dan handuk, mereka memesan Grabcar. Mobil datang dan mereka bergegas masuk.

Di tengah perjalanan, tawa riang memenuhi mobil. Mereka membayangkan betapa serunya meluncur di seluncuran air. Namun, tiba-tiba Agusto menepuk jidatnya. Raut wajahnya berubah panik.

"Waduh gawat!" seru Agusto. "Dompetku ketinggalan! Padahal itu buat bayar Grabnya nanti."

Sontak semua terdiam. Okie yang duduk di sebelahnya langsung bertanya, "Seriusan, Gusto?"

"lya, tadi aku buru-buru banget sampai lupa masukin ke tas," jawab Agusto dengan nada lesu.

Tanpa berpikir panjang, Agusto langsung meminta Grab putar balik. "Pak, putar balik saja ke alamat awal," katanya kepada pengemudi. Meskipun sedikit cemas akan membuang waktu, teman-temannya memahami. Mereka memaklumi dan mencoba untuk tetap tenang.

Setelah sampai di rumah Agusto, mereka bergegas turun. Agusto langsung berlari ke dalam rumah dan dengan cepat menemukan dompetnya yang tergeletak di meja ruang tamu. Dengan napas terengah-engah, ia kembali ke mobil dengan senyum lega. "Aman!" serunya.

Akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Waterbom Bali. Setibanya di sana, mereka langsung bergegas menuju loket untuk membeli tiket. Setelah selesai, mereka mencari loker untuk menyimpan barang-barang. Kemudian mereka langsung berlari menuju wahana favorit.

Begitu masuk, suasana tropis Waterbom Bali langsung menyambut mereka dengan pepohonan rimbun dan gemericik air. Mereka segera menukar uang dengan sistem gelang tunai (cashless wristband) yang memudahkan pembayaran di dalam taman.

Youri dan Dava langsung menantang diri untuk mencoba wahana paling ekstrem, yaitu Smash Down 2.0, yang terkenal dengan luncuran nyaris vertikalnya. Sedangkan Daffi dan Reagen lebih memilih wahana santai, seperti Lazy River, yang memungkinkan mereka mengapung perlahan sambil menikmati pemandangan taman. Sementara itu, Okie, Ryoshi, dan Agusto memutuskan untuk adu cepat di Twin Racers untuk melihat siapa yang paling cepat meluncur.

Hujan Mengubah Rencana

Waktu berlalu begitu cepat. Saat jam menunjukkan pukul 2 siang, mereka memutuskan untuk keluar sejenak mencari makan. Mereka berjalan kaki ke McDonald's terdekat. Tawa dan obrolan seru memenuhi meja mereka sambil menikmati makanan dan minuman dingin.

Tiba-tiba, langit gelap dan hujan turun deras. Mereka saling pandang dengan ekspresi kaget. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke Waterbom meskipun hujan masih mengguyur. Dengan jaket dan tas seadanya, mereka berlari-larian menembus hujan, diiringi tawa renyah.

Setibanya di gerbang Waterbom, mereka disambut oleh petugas. "Maaf, karena cuaca hujan, semua wahana sementara ditutup demi keselamatan," jelas petugas. Mereka pun disuruh menunggu di area lobi atau di gazebo sampai hujan reda. Meskipun kecewa, mereka memanfaatkan waktu itu untuk istirahat sambil mengobrol.

Kembali Bermain Setelah Hujan

Sekitar pukul 3 sore, rintik hujan mulai mereda. Petugas mengumumkan bahwa wahana sudah bisa dibuka kembali. Mereka langsung bergegas menuju wahana untuk bermain sepuasnya. Meskipun sudah lelah, semangat mereka kembali membara. Mereka langsung mencoba wahana yang belum sempat mereka coba, seperti Climax yang terkenal ekstrem dan Python yang berkelompok.

Perut mereka mulai keroncongan lagi. Mereka pun mencari makanan dan minuman di sekitar kolam, menggunakan gelang tunai mereka. Sambil makan, mereka berbagi cerita tentang wahana yang sudah dicoba, dari sensasi mendebarkan hingga keseruan berkelompok.







Menjelang pukul 7 malam, mereka bersiap-siap untuk pulang. Meskipun lelah, wajah mereka terpancar kebahagiaan. Sambil menunggu Grabcar, mereka mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen kebersamaan yang tak terlupakan. Mereka berdelapan pulang dengan rasa senang, lelah, dan kenangan indah. Liburan yang awalnya sempat terhambat karena insiden dompet ketinggalan dan hujan deras, kini menjadi hari yang tak akan mereka lupakan.


PRAMUKA PERTAMA SAAT KELAS 7

 


Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selalu punya cerita uniknya sendiri. Tapi, ada satu momen yang paling sering jadi sorotan dan bahan cerita bertahun-tahun kemudian: malam pertama di sekolah, ketika kita harus menginap. Bagi banyak dari kita, momen itu identik dengan Pramuka. Sebuah kombinasi yang kadang bikin tegang, tapi juga penuh kenangan.


Aku masih ingat, waktu itu adalah awal MPLS. Hari pertama sudah diisi dengan berbagai materi dan perkenalan, tapi malamnya adalah puncaknya. Ada agenda "Persami" (Perkemahan Sabtu Minggu) yang jadi bagian dari kegiatan Pramuka. Bayangan tenda, api unggun, dan nyanyian di tengah malam sudah terbayang. Buat anak-anak yang baru lulus SD, ini adalah petualangan besar pertama di sekolah baru.


Ada yang terlihat antusias, ada juga yang tampak cemas. Koper dan tas ransel berisi perlengkapan sudah berjajar rapi. Beberapa orangtua masih terlihat di gerbang, melambaikan tangan dengan wajah khawatir. Sementara kami, para siswa baru, mencoba menutupi rasa gugup dengan obrolan dan tawa.


Saat malam tiba, kegiatan dimulai. Kami diajarkan berbagai yel-yel Pramuka yang lucu dan penuh semangat. Suara tawa pecah saat ada yang salah gerakan, dan rasa malu langsung hilang digantikan keakraban. Kami membuat kelompok-kelompok kecil, mulai dari regu Anggrek sampai regu Kancil. Dari sana, kami mulai mengenal satu sama lain lebih dalam.


Malam itu, kami duduk melingkar mengelilingi api unggun. Cahaya api yang menari-nari menerangi wajah-wajah baru yang masih malu-malu. Kakak-kakak pembina Pramuka bercerita tentang pengalaman mereka, dan kami diminta untuk menceritakan alasan kami memilih sekolah ini. Ada yang serius, ada yang jawabannya bikin ketawa. Momen itu terasa magis, seperti sebuah ritual perkenalan yang membuka jalan bagi pertemanan baru.


Setelahnya, ada acara yang paling ditunggu-tunggu: jelajah malam. Jantung berdebar kencang saat kami berjalan beriringan dalam kegelapan. Ada "pos-pos" misterius yang diisi kakak-kakak pembina yang menyamar jadi "hantu". Suara teriakan dan tawa bercampur jadi satu. Meskipun menakutkan, momen itu justru membuat kami saling berpegangan tangan dan merasa lebih dekat satu sama lain. Rasa takut hilang, digantikan rasa solidaritas.

Paginya, kami bangun dengan badan pegal, mata panda, tapi hati yang penuh cerita. Kami sarapan bersama, membersihkan area perkemahan, dan berbagi cerita seru tentang apa yang terjadi semalam. Pengalaman Pramuka di awal MPLS itu bukan hanya tentang api unggun atau jelajah malam. Ini tentang bagaimana kita keluar dari zona nyaman, belajar mandiri, dan paling penting, menemukan teman-teman baru. Di tenda yang sempit, di tengah malam yang dingin, atau saat berteriak karena terkejut, kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Kita adalah bagian dari sebuah komunitas baru yang akan menemani kita selama bertahun-tahun ke depan.

Sampai sekarang, cerita tentang malam pertama di sekolah itu masih sering muncul saat kami reuni. "Ingat waktu kamu teriak karena ketemu hantu di pos sana?" atau "Dulu kita cuma kenal nama, tapi setelah acara itu, kita jadi benar-benar kenal."


Pengalaman Pramuka di awal MPLS adalah cara sekolah bilang, "Selamat datang. Mari kita mulai petualangan ini bersama-sama." Dan di luar dugaan, petualangan itu sering kali dimulai dengan tenda, api unggun, dan cerita-cerita yang takkan pernah pudar.